{"id":3377,"date":"2024-09-04T14:38:18","date_gmt":"2024-09-04T14:38:18","guid":{"rendered":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/?p=3377"},"modified":"2024-09-04T14:38:20","modified_gmt":"2024-09-04T14:38:20","slug":"meneladani-spirit-nabi-ibrahim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/","title":{"rendered":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, <em>sampling<\/em> yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di mana-mana figur harus top, tidak mungkin menjadi figur kalau tidak top. Satu-satunya manusia yang mempunyai spesifikasi top seperti itu hanyalah Nabi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam usaha kita meneladani figur Nabi, katakanlah prosentase sempurnanya seratus persen, lalu kita bisa meniru sepuluh persen saja, itu sudah bagus. Kita tidak bisa meniru Nabi seratus persen. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tingkatan tertinggi yang bisa meniru Nabi disebut pewaris, itu pun hanya level ulama. Tetapi kita tetap harus berusaha mencontoh sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada dua Nabi dalam Alquran yang mendapat gelar Uswatun Hasanah, yaitu Hadraturrasul SAW dan Nabi Ibrahim A.S.. Dalam kasus Nabi brahim, tidak ada sisi kehidupannya yang tidak bisa kita jadikan teladan. Misalnya saat ia masih muda. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibrahim muda sangat sensitif kepada kemungkaran, ia mempunyai keberanian yang melampaui pemuda pada umumnya. Pemuda yang berani melawan bapak angkatnya dan menghancurkan sesembahan kaumnya sendirian. Berbeda dengan Nabi Musa yang punya teman dan pasukan saat melawan Fir\u2019aun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita perlu bertanya kepada diri kita, seberapa kadar keberanian yang kita punya? Sudahkah kita gunakan tangan dan lisan kita untuk <em>taghyir al-munkar<\/em>? <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Alquran adanya nahi munkar, tidak ada <em>taghyir al-munkar<\/em>. Kalau nahi itu munkarnya belum ada, sedangkan taghyir itu munkarnya sudah ada lalu dirubah. Taghyir levelnya lebih top.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksi Nabi Ibrahim itu ternyata dibocorkan oleh iblis yang menyamar jadi orang tua. Iblis yang menyamar itu berkata: <em>Q\u0101l\u1ee5 sami&#8217;n\u0101 fatay ya\u017ckuruhum yuq\u0101lu lah\u016b ibr\u0101h\u012bm<\/em>, Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. Nabi Ibrahim dipanggil kemudian ditanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>A anta fa&#8217;alta h\u0101\u017c\u0101 bi`\u0101lihatin\u0101 y\u0101 ibr\u0101h\u012bm,<\/em> &#8220;Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?&#8221; Nabi Ibrahim tidak menjawab dengan \u201cya\u201d atau \u201ctidak\u201d, tetapi dengan kalimat diplomatis: <em>bal fa&#8217;alah\u1ee5 kab\u012bruhum h\u0101\u017c\u0101<\/em>. \u201cPatung yang besar itulah yang melakukannya, karena patung besar itu memegang kapak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pernah menyampaikan bahwa Nabi Ibrahim di sini tidak sedang berbohong, ini hanya ketidaktahuan orang yang memahami kata-kata itu saja. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut mereka Nabi Ibrahim bermaksud mengatakan bahwa berhala besar yang menghancurkan berhala-berhala yang lain. Sebenarnya tidak sesederhana itu, ini adalah bukti kecerdasan diplomatik Nabi Ibrahim. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Bal Fa\u2019ala <\/em>(<em>ngelakoni sopo Ibrahim<\/em>)<em>, hu (ing ngepruki). <\/em>Di sini berhenti. Lalu <em>kab\u012bruhum (utawi sing gede-gedene patung), h\u0101\u017c\u0101 (hiyo aku (Nabi Ibrahim) <\/em>yang menghancurkan<em>). <\/em>Ini adalah strategi pemancingan dari Nabi Ibarahim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sini Nabi Ibrahim langsung memasukkan dimensi dakwah dengan bertanya: <em>fas`al\u1ee5hum ing k\u0101n\u1ee5 yan\u1e6diq\u1ee5n, <\/em>maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.<em> <\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Strategi dakwah yang sangat jitu, mengumpulkan orang sebanyak itu tidak mudah, tetapi Nabi Ibrahim dengan kecerdasannya mampu membuat mereka kumpul lalu didakwahi: <em>Loh patung yang kamu sembah itu tidak bisa ngapa-apa kok kamu sembah?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi dasar orang kafir, kalah dialog tidak berarti urusan selesai. Keputusan rasa berbeda dengan keputusan logika. Mereka lalu menagkap dankemudian akan membakar Nabi Ibrahim, <em>Harriquuhu,<\/em> bakar dia! <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sini lalu Allah turun tangan<em>, y\u0101 n\u0101ru k\u1ee5n\u012b bardaw wa sal\u0101man &#8216;al\u0101 ibr\u0101h\u012bm, <\/em>Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari kisah Ibrahim muda di atas, ada hikmah bahwa menjadi pemuda itu yang penting bener, <em>ngawur-ngawur<\/em> sedikit tidak masalah. Hukuman terberat zaman sekarang mungkin penjara, atau tidak disukai orang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mempunyai prinsip dan mempertahankannya tentu saja penuh resiko, tetapi itu tidak menjadi masalah. Resiko tidak disukai sesama manusia itu asyik, hidup menjadi lebih variatif, tidak linier-linier saja.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti Ibrahim muda dengan keberaniannya menghancurkan kemungkaran yang dilakukan kaumnya, pemuda tidak boleh terlalu banyak pertimbangan saat akan bergerak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bentuk gerakan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim memang tidak bisa kita tiru, tetapi spiritnya bisa kita adopsi dalam kadar\u00a0 kemampuan dan kondisi kita dalam menghadapi kemungkaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keimanan Yang Teruji<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sisi tauhid, kita bisa mencontoh keimanan Nabi Ibrahim yang teruji dengan rasioanalitas. Misalnya saat ia bertanya tentang kekuasaan Allah cara menghidupkan orang mati (<em>kaifa tu\u1e25yil-maut\u0101<\/em>), apakah kamu tidak percaya, Ibrahim? (<em>a wa lam tu`min<\/em>), <em>mboten Gusti, <\/em>biar hati saya mantab beriman (<em>bal\u0101 wa l\u0101kil liya\u1e6dma`inna qalb\u012b<\/em>). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Uji validitas dilakukan oleh Nabi Ibrahim agar keimanannya semakin menancap. Khusus dalam perkara keimanan, kita tidak boleh taklid. <em>Wa al-muqollidu kafir<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allah langsung memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengambil empat ekor burung (<em>fakhu\u017c arba&#8217;atam mina\u1e6d-\u1e6dairi<\/em>). Kemudian ia diperintah untuk mencincang burung-burung itu sampai lembut (<em>fa \u1e63ur-hunna ilaika<\/em>) lalu disebarkan ke setiap penjuru bukit (<em>\u1e61ummaj&#8217;al &#8216;al\u0101 kulli jabalim min-hunna juz`an<\/em>). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah itu ia berdiri di tengah bukit dan Allah perintahkannya memanggil burung-burung yang sudah lembut tadi (<em>\u1e61ummad&#8217;uhunna<\/em>) lalu datanglah burung-burung tersebut seperti sedia kala (<em>ya`t\u012bnaka sa&#8217;y\u0101<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Nabi Ibrahim Meninggalkan Istri dan Anak di Padang Pasir?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan Sayyidatina Hajar dan Sayyidatina Sarah awalnya baik-baik saja, tetapi berhubungan Sarah belum punya anak dan Hajar sudah dikaruniai anak, maka Sarah cemburu. Lalu, daripada \u201ctarung\u201d, akhirnya mereka dipisah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, ini juga ada \u201ckecemburuan\u201d dari Tuhan. Seorang Nabiyullah condong kepada \u201cistri muda\u201d dan anak yang dinantikannya selama bertahun-tahun. Nabi Ibrahim \u201cmenduakan\u201d cinta kepada Tuhannya dengan anak dan istri mudanya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat itu Nabi Ismail masih bayi, sangat kejam jika diperintahkan untuk membunuh bayi, jadi dipilihlah pengasingan ke tempat yang tidak ada apapun di sana. Akses seksual kepada \u201cistri muda\u201d dibatasi, kecintaannya kepada anak yang baru lahir juga dibatasi total.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bisa dibayangkan, begitu lama menantikan buah hati, saat dikaruniai buah hati malah disuruh meninggalkan di padang pasir gersang. Selain itu, saat masih senang-senangnya pelampiasan seksual dengan \u201cistri muda\u201d, tiba-tiba hal itu dihentikan total. Tuhan cemburu cintanya diduakan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ujian ini sangat tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Ujian ini hanya diujikan kepada Nabi Ibrahim. Saking tidak manusiawinya Sayyidatina Hajar sampai bertanya: \u201c<em>A-allahu Amaraka bi Hadza?<\/em>&#8221;\u00a0(Apakah Allah yang memerintahkan ini semua?) <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nabi Ibrahim menjawabnya dengan isyarat tangan ke atas tanda bahwa Allah yang memerintahkannya. Kemudian dengan mantab Sayyidatina Hajar bilang: \u00a0&#8220;<em>Idzan Lan Yudhoyyi&#8217;anallah<\/em>&#8221;\u00a0(kalo begitu, Allah pasti tidak akan membiarkan kami terlantar). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tawakal habis tanpa ikhtiar. Dan, setelah itu Allah karuniakan zam-zam kepada keduanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah sekian lama berpisah, saat Nabi Ibrahim kembali kepada istri yang ditinggalkannya di padang pasir gersang sendirian, Allah memberikan ujian kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak yang dirindukannya begitu lama, Nabi Ibrahim tetap patuh, dan akhirnya saat nyaris anaknya akan disembelih tiba-tiba Allah selamatkan anak tersebut dengan <em>bidzibhin adzim<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keimanan Nabi Ibrahim benar-benar keimanan senior. Kita tidak akan pernah bisa menirunya secara sempurna, tetapi setidaknya kita punya spirit jiwa seperti Nabi Ibrahim, dengan kadar dan medan juang masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Wallahu a&#8217;lam bissawab &#8230; <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia&#8230; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3378,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,5],"tags":[1085,1084,89,1087],"class_list":["post-3377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-inspirasi","category-kisah","tag-kisah-nabi-ibrahim","tag-meneladani-spirit-nabi-ibrahim","tag-nabi-ibrahim","tag-spirit-nabi-ibrahim"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v28.0 (Yoast SEO v28.0) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Meneladani Spirit Nabi Ibrahim - Kajian Islam<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Kajian Islam\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-04T14:38:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-09-04T14:38:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2024\/09\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"284\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"177\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rokhimatul Inayah\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rokhimatul Inayah\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rokhimatul Inayah\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1200c2fed45a04e66888e5ed68933314\"},\"headline\":\"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim\",\"datePublished\":\"2024-09-04T14:38:18+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-04T14:38:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/\"},\"wordCount\":1083,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2024\\\/09\\\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg\",\"keywords\":[\"Kisah Nabi Ibrahim\",\"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim\",\"Nabi Ibrahim\",\"Spirit Nabi Ibrahim\"],\"articleSection\":[\"Inspirasi\",\"Kisah\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#respond\"]}],\"copyrightYear\":\"2024\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/\",\"name\":\"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim - Kajian Islam\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2024\\\/09\\\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg\",\"datePublished\":\"2024-09-04T14:38:18+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-04T14:38:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1200c2fed45a04e66888e5ed68933314\"},\"description\":\"Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2024\\\/09\\\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/3\\\/2024\\\/09\\\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg\",\"width\":284,\"height\":177,\"caption\":\"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/\",\"name\":\"Kajian Islam\",\"description\":\"Kajian Islam Bersama LSPT\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/1200c2fed45a04e66888e5ed68933314\",\"name\":\"Rokhimatul Inayah\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d49f17ea06c055b7d4a67f4f8a0d78095d56648b782b477bdb0629c9f31a33e2?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d49f17ea06c055b7d4a67f4f8a0d78095d56648b782b477bdb0629c9f31a33e2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/d49f17ea06c055b7d4a67f4f8a0d78095d56648b782b477bdb0629c9f31a33e2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Rokhimatul Inayah\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/author\\\/inayah\\\/\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/lspt.or.id\\\/kajian\\\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\\\/#local-main-organization-logo\",\"url\":\"\",\"contentUrl\":\"\",\"caption\":\"Kajian Islam\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim - Kajian Islam","description":"Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim","og_description":"Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya.","og_url":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/","og_site_name":"Kajian Islam","article_published_time":"2024-09-04T14:38:18+00:00","article_modified_time":"2024-09-04T14:38:20+00:00","og_image":[{"width":284,"height":177,"url":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2024\/09\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Rokhimatul Inayah","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Rokhimatul Inayah","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/"},"author":{"name":"Rokhimatul Inayah","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/#\/schema\/person\/1200c2fed45a04e66888e5ed68933314"},"headline":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim","datePublished":"2024-09-04T14:38:18+00:00","dateModified":"2024-09-04T14:38:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/"},"wordCount":1083,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2024\/09\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg","keywords":["Kisah Nabi Ibrahim","Meneladani Spirit Nabi Ibrahim","Nabi Ibrahim","Spirit Nabi Ibrahim"],"articleSection":["Inspirasi","Kisah"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#respond"]}],"copyrightYear":"2024","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/","url":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/","name":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim - Kajian Islam","isPartOf":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2024\/09\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg","datePublished":"2024-09-04T14:38:18+00:00","dateModified":"2024-09-04T14:38:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/#\/schema\/person\/1200c2fed45a04e66888e5ed68933314"},"description":"Dalam teori apapun, terutama dalam marketing, sampling yang digunakan untuk iklan adalah produk terbaik. Untuk itu, syari\u2019at sebagai produk dari langit dan diturunkan untuk umat manusia, maka diambillah figur manusia yang paling lengkap dan bagus jiwa ilahiyah dan basyariyahnya.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#primaryimage","url":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2024\/09\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg","contentUrl":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2024\/09\/Meneladani-Spirit-Nabi-Ibrahim.jpg","width":284,"height":177,"caption":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Meneladani Spirit Nabi Ibrahim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/#website","url":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/","name":"Kajian Islam","description":"Kajian Islam Bersama LSPT","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/#\/schema\/person\/1200c2fed45a04e66888e5ed68933314","name":"Rokhimatul Inayah","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d49f17ea06c055b7d4a67f4f8a0d78095d56648b782b477bdb0629c9f31a33e2?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d49f17ea06c055b7d4a67f4f8a0d78095d56648b782b477bdb0629c9f31a33e2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d49f17ea06c055b7d4a67f4f8a0d78095d56648b782b477bdb0629c9f31a33e2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Rokhimatul Inayah"},"sameAs":["https:\/\/lspt.or.id"],"url":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/author\/inayah\/"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/meneladani-spirit-nabi-ibrahim\/#local-main-organization-logo","url":"","contentUrl":"","caption":"Kajian Islam"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3377"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3377\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3379,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3377\/revisions\/3379"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3378"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lspt.or.id\/kajian\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}