Adaptasi dengan Teknologi dan Permudah Himpun Dana Umat

Jombang, LSPT

Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT terus berupaya menghimpun dana umat. Pandemi Corona yang membatasi pergerakan manusia memaksa seluruh komponen untuk berpikir lebih keras. Belum lagi makam Pesantren Tebuireng yang hinggi kini masih tertutup untuk peziarah.

“Karenanya kami melakukan banyak terobosan, salah satunya adalah dengan pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard atau biasa disingkat QRIS,” kata Afif Abdur Rokhim, Direktur LSPT.

Apalagi terhitung sejak 1 Januari 2020 Bank Indonesia (BI) telah mewajibkan seluruh penyedia layanan pembayaran non tunai menggunakan QRIS (Quick Response [QR] Code Indonesian Standard). Hal ini akan berdampak langsung pada mitra atau toko yang mengadopsi teknologi finansial (fintech) seperti GoPay, OVO, LinkAja, dan DANA. Tercatat, sebanyak 1,6 juta toko telah mengadopsi sistem QRIS ini.

QRIS merupakan standar QR Code untuk pembayaran digital melalui aplikasi uang elektronik berbasis server, dompet digital, atau mobile banking. Setiap Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang menggunakan sistem QR wajib mengadopsi QRIS. Hal ini diatur dalam PADG No.21/18/2019 tentang Standar Internasional QRIS untuk pembayaran.

QRIS disusun oleh BI dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang menggunakan standar internasional EMV Co., – lembaga yang menyusun standar internasional QR Code untuk pembayaran.

“Prinsipnya kami harus adaptasi dengan keadaan,” kata mahasiswa pascasarjana Universitas Hasyim Asyari Tebuireng Jombang ini. Dengan demikian tidak semata ikut trend, tapi yang terpenting adalah memastikan kian mudah menyapa calon donatur, lanjutnya.

Di kesempatan berbeda, Muhammad Rusdi menjelaskan bahwa pembayaran dengan sistem elektronik tersebut juga merespons semangat sejumalh wali satri dan murid yang berada di tempat yang jauh. Belum lagi kesulitas kalau harus mendatangi bank tertentu dan dikenakan biaya administrasi.

“Dengan demikian, keberadaan pembayaran elektronik akan menjadi solusi yang tepat bagi berbagai kalangan yang ingin berderma di LSPT,” ungkap pria yang didaulat sebagai manager program tersebut.

Dikemukakannya bahwa layanan ini diluncurkan pada Agustus lalu bersamaan dengan gelombang kedatangan santri Pesantren Tebuireng. Karena tidak sedikit dari mereka yang mengeluhkan kesulitan dalam memberikan donasi kepada lembaga sosial ini. Belum lagi potensi alumni pesantren yang tersebar di berbagai kawasan di Tanah Air.

“Kita berharap dengan adanya pembayaran yang lebih mudah dan akurat ini, donatur yang mempercayakan dananya kepada LSPT kian banyak,” harapnya. Pada saat yang bersamaan, akan banyak program yang dilakukan demi memastikan membantu kalangan yang memang layuak dibantu.

Sejumlah terobosan juga dilakukan dengan menebar pamflet, memanfaatkan media sosial dan kemitraan dengan beragam pihak. Dengan demikian akan semakin banyak kalangan yang akan bergabung dan berpartisipasi.

“Kita juga melakukan komunikasi dengan beragam kelompom masyarakat, tokoh warga dan sejenisnya demi memastikan bahwa akan kian banyak dana yang terhimpun,” terang M Rusdi.

Mengencangkan Ikat Pinggang

Pada saat yang sama, LSPT juga melakukan efisiensi dengan mengurangi pengeluaran yang membebani dan kurang terpat sasaran. Sejumlah program akhirnya dilakukan evaluasi demi memastikan tidak terjadi defisit anggaran.

“Mereka yang secara ajeg menerima santunan, kita lakukan pengecekan ulang,” jelasnya. Dan ternyata benar, ada sejumlah pihak yang semestinya tidak lagi menerima santunan, ternyata menerima dengan lancar. Bahkan tidak sedikit yang telah meninggal, lanjutnya.

Demikian pula mereka yang status ekonominya telah membaik, maka didorong untuk menjadi muzakki. Karena LSPT telah memberikan banyak stimulan kepada warga dengan bantuan usaha produktif.