Pandemi, Sarana Inovasi dan Berhemat

Jombang, LSPT

Tidak ada yang dapat memastikan kapan pandemi Corona segera berakhir. Karena itu yang harus dilakukan adalah adaptasi dengan suasana baru, termasuk yang dilakukan lembaga ini.

Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT harus melakukan aneka terobosan saat penyebaran Covid-19 melanda negeri ini. Apalagi pada saat yang bersamaan, sumber pemasukan dari lorong Gus Dur ditutup yang berdampak sangat nyata bagi pemasukan lembaga.

Aneka kegiatan yang selama ini ajeg digelar, terpaksa harus dievaluasi. Termasuk santunan yang diberikan setiap bulan kepada ratusan dluafa dan kegiatan lain. Hal tersebut demi memastikan bahwa lembaga dapat melayani kebnutuhan yang lebih mendesak.

“Ini tidak bisa dihindari berdasarkan masukan dari berbagai kalangan, termasuk tentu saja Pesantren Tebuireng,” kata Afif Abdur Rokhim, Direktur LSPT.

Melakukan efisiensi dengan mengurangi pengeluaran yang membebani dan kurang tepat sasaran tentu saja harus dilakukan. Sejumlah program akhirnya dilakukan evaluasi demi memastikan tidak terjadi defisit anggaran.

“Mereka yang secara ajeg menerima santunan, kita lakukan pengecekan ulang,” jelasnya. Dan benar, ada sejumlah pihak yang semestinya tidak lagi menerima santunan, ternyata menerima dengan lancar. Bahkan tidak sedikit yang telah meninggal, lanjutnya.

Dikonfirmasi di kesempatan berbeda, Muhammad Rusdi juga membenarkan hal tersebut. Manager Program LSPT tersebut mengemukakan dijumpai di lapangan ada yang menerima santunan, padahal secara ekonomi sudah berdaya. Karenanya, hal tersebut dilakukan evaluasi secara ketat.

Pria kelahiran Riau tersebut mencerikan bahwa suatu ketika tim melakukan pengecekan ke lapangan. Saat dilakukan silaturahim, ada penerima santunan yang dipastikan keadaannya. Dan saat disesak tim, ternyata sang penerima santunan telah meninggal.

Belum lagi kalau ada yang dengan terbuka mengemukakan kalau tidak lagi membutuhkan dana bulanan. Hal tersebut lantaran usaha yang digeluti telah membuahkan hasil, juga ada anggota keluarga yang berkenan untuk menanggung biaya hidup yang bersangkutan.

“Prinsipnya, kami melakukan pengecekan satu demi satu. Hal tersebut tentu saja agar santunan yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” tegas alumnus Universitas Hasyim Asyari Tebuireng ini.

Lakukan Inovasi

Sebagaimana disampakan media ini sebelumnya, LSPT terus berupaya menghimpun dana umat. Pandemi Corona yang membatasi pergerakan manusia memaksa seluruh komponen untuk berpikir lebih keras. Belum lagi makam Pesantren Tebuireng yang hinggi kini masih tertutup untuk peziarah.

“Karenanya kami melakukan banyak terobosan, salah satunya adalah dengan pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard atau biasa disingkat QRIS,” jelasnya.

Apalagi terhitung sejak 1 Januari 2020 Bank Indonesia (BI) telah mewajibkan seluruh penyedia layanan pembayaran non tunai menggunakan QRIS (Quick Response [QR] Code Indonesian Standard). Hal ini akan berdampak langsung pada mitra atau toko yang mengadopsi teknologi finansial (fintech) seperti GoPay, OVO, LinkAja, dan DANA. Tercatat, sebanyak 1,6 juta toko telah mengadopsi sistem QRIS ini.

QRIS merupakan standar QR Code untuk pembayaran digital melalui aplikasi uang elektronik berbasis server, dompet digital, atau mobile banking. Setiap Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) yang menggunakan sistem QR wajib mengadopsi QRIS. Hal ini diatur dalam PADG No.21/18/2019 tentang Standar Internasional QRIS untuk pembayaran.

QRIS disusun oleh BI dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang menggunakan standar internasional EMV Co., – lembaga yang menyusun standar internasional QR Code untuk pembayaran.

“Prinsipnya kami harus adaptasi dengan keadaan. Dengan demikian tidak semata ikut trend, tapi yang terpenting adalah memastikan kian mudah menyapa calon donatur,” tegasnya.