Pesarean Gus Dur yang Terus Menghidupkan

Jombang, LSPT

Seperti diketahui, hingga kini makam di lingkungan Pesantren Tebuireng masih tertutup untuk peziarah. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga lingkungan pesantren dari penyebaran virus Corona.

Seiring dengan tidak dibukanya areal pesarean, maka tertutup pula jariyah dari pengunjung. Karena biasanya, mereka menyisihkan sebagian harta untuk dimasukkan ke kotak yang telah disediakan sepanjang lorong makam.

Dalam catatan, rata-rata ada seratus ribu peziarah datang ke makam Presiden ke 4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Pesantren Tebuireng. Dana infak yang terkumpul dari para peziarah pun melimpah. Rata-rata dalam sebulan mencapai Rp150 juta.

Dana infak ini disalurkan para peziarah melalui kotak amal yang ada di lorong menuju ke area makam. Terdapat sejumlah kotak amal di bagian lorong. Kotak amal dari besi ini masing-masing berukuran 100x60x80 cm. Selain itu, terdapat sejumlah kotak amal cadangan untuk mengganti ketiga kotak amal tersebut jika telah penuh.

Dana infak peziarah dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT). Lembaga di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy'ari ini berdiri sejak tahun 2007. Selain mengelola infak, lembaga ini juga menjadi unit pengumpulan zakat dari masyarakat.

Direktur LSPT, Afif Abdul Rokhim menyatakan, kotak amal tersebut mulai dipasang tahun 2010, tepatnya setelah Gus Dur wafat dan dimakamkan di Tebuireng 31 Desember 2009.

Ketiga kotak amal ini tanpa penjagaan. Sehingga peziarah betul-betul secara suka rela menyalurkan sedekah ke dalam kotak amal tersebut. Awal-awal dipasang, kata Rusdi, nilai infak dari para peziarah di kotak amal Rp 50-80 juta per bulan.

"Saat ini angkanya rata-rata Rp 100-150 juta per bulan," katanya di kantor LSPT, beberapa waktu berselang.

Pada bulan-bulan libur sekolah dan menjelang Ramadlan, Afif melanjutkan, nilai infak yang terkumpul dari kotak amal makam Gus Dur mencapai Rp250 juta. Tingginya penerimaan infak ini seiring dengan semakin membeludaknya peziarah. "Uang di dalam kotak amal pecahan terkecil Rp500, paling besar pecahan Rp100 ribu," ungkapnya.

Untuk memudahkan penghitungan, ketiga kotak amal di lorong dibongkar sekali dalam sepekan, yakni tiap Selasa. Pembongkaran dam penghitungan melibatkan 7 karyawan LSPT. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 hingga 6 hari untuk menghitung uang tersebut.

"Yang membuat lama penghitungan adalah banyaknya uang koin, untuk uang kertas harus diseterika biar rapi, juga harus ditata sesuai permintaan bank," ujarnya.

Dalam pandangan M Rusydi selaku Manajer Program LSPT, bahwa  penempatan kotak amal di lorong menuju makam Gus Dur bukan tanpa alasan.  Sebelum ada kotak amal, peziarah menyalurkan sedekahnya dengan cara melempar uang ke area makam. Ada pula yang menitipkan melalui penjaga makam. Lama kelamaan pengasuh kemudian menyarankan membuat kotak amal supaya orang mudah bersedekah.

Kreasi di Tengah Pandemi

Rusdi menjelaskan, dana infak yang dikelola oleh LSPT sepenuhnya untuk berbagai kegiatan sosial. Tak sepeser pun dana digunakan untuk Pesantren Tebuireng. Menurut dia, dana tersebut sepenuhnya digunakan untuk meringankan beban warga dluafa atau masyarakat kurang mampu.

"Ada kejadian banyak orang main ke pondok ingin minta bantuan karena kekurangan ekonomi. Kalau setiap hari harus bertemu dengan pengasuh kan ribet, maka dibentuk lembaga untuk mengelola infak. Infak ini bukan haknya pesantren, tapi hak masyarakat kurang mampu," jelas Rusdi menirukan pesan almaghfurlah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Selain itu, lanjut Rusdi, ada juga program sosial penyaluran dana antara lain peduli siswa tidak mampu, peduli yatim, bantuan abdi pesantren, pensiunan guru swasta, orang masyarakat miskin, ratusan anak penerima beasiswa pendidikan, kesehatan anak dan membantu puluhan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

Namun seiring dengan kondisi saat ini, maka pemasukan utama dari kotak amal menjadi berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat LSPT untuk bergerak. Berbekal kiprah yang selama ini dilakukan, tidak terlalu sulit mendapat kepercayaan warga.

Sejumlah aghniya atau orang berpunya masih mempercayakan zakat, infak dan sedekahnya kepada LSPT. Karena itu yang dilakukan adalah dengan adaptasi dengan teknologi. Penggunaan e-money dalam menghimpun dana umat terus dilakukan.

Pada saat yang sama, sejumlah program yang kurang tepat dilakukan evaluasi. Termasuk mereka yang selama ini menerima santunan dilakukan pengecekan ulang. Karena tidak sedikit warga yang awalnya menerima santunan ternyata sudah menyatakan mengundurkan diri.

“Hal tersebut karena yang bersangkutan awalnya sebagai mustahik atau penerima santunan bisa menjadi muzakki atau pemberi santunan,” ungkap alumnus Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng ini.