Badan Wakaf Tebuireng, Strategi Bertahan dan Berkembang

Ad
Badan Wakaf Tebuireng, Strategi Bertahan dan Berkembang

Badan Wakaf Tebuireng merupakan lembaga nirlaba yang berkhidmat dan concern dalam pendidikan Islam dan pengentasan kaum dhuafa melalui beberapa program kemandirian ekonomi. Kemandirian tersebut diupayakan melalui lima program utama yang dikelola oleh Badan Wakaf Tebuireng, yaitu program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, sosial kemanusiaan dan dakwah.

Wakaf di Pesantren Tebuireng dimulai sejak wafatnya KH. M. Hasyim Asy’ari pada tahun 1947 yang mewakafkan seluruh harta bendanya. Seiring dengan perjalanan waktu, perkembangan wakaf Pesantren Tebuireng mendapatkan perhatian lebih, utamanya di era KH. M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Tebuireng keenam. Dengan dibantu santri senior, beliau melakukan upaya serius dalam menjaga dan mengelola perwakafan, seperti melakukan sertivikasi tanah-tanah wakaf pada tahun 1987 dan memperbaiki pengelolaannya. 

Di era KH. Salahuddin Wahid (2006-2020) yang diangkat menjadi Pengasuh Tebuireng ketujuh, tata kelola wakaf dilakukan perubahan manajemen wakaf, pembentukan kepengurusan baru, dan melembagakan secara hukum pada 19 Agustus 2009. Pada kisaran 1980-2006 era KH. M. Yusuf Hasyim, jenis wakaf Tebuireng baru berupa wakaf tanah. 

Selanjutnya merambah wakaf uang pada zaman KH. Salahuddin Wahid 2006-2012. Karena saat itu memang banyak masukan dari masyarakat soal wakaf uang. Imam Toha selaku Sekretaris Badan Wakaf Tebuireng (2015-2020) mengartikan bahwa wakaf yang dijalankan era KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) adalah wakaf produktif versi Tebuireng. Tidak banyak pesantren lain yang melakukan itu dan melembaga. 

Misalnya, Gus Sholah memperhatikan dua hal. Pertama, membenahi semua aspek dengan cara menghidupkan lembaga penjaminan mutu. Sebuah unit ujung tombak yang mengurusi standariasi pendidikan. Kedua, KH. Salahuddin Wahid meyakinkan keluarga dengan membangun kamar santri berlandaskan standar kesehatan yang tepat.

Baca Juga : <strong>Hukum Wakaf Menurut Empat Mazhab Fikih</strong>

Dua hal tersebut di Pesantren Tebuireng merupakan salah satu terjemahan dari pengelolahan wakaf produktif secara apik. Karena harta wakaf produktif itu mempunyai dimensi ilahiyah dan insaniyah. Yang dimaksud mempunyai dimensi insaniyah karena harta wakaf produktif terdapat unsur-unsur kepedulian terhadap sosial sebagai bentuk untuk meluruskan keadilan sosial.

Sedangkan wakaf produktif dikatakan mempunyai dimensi ilahiyah karena harta/benda yang diwakafkan itu mempunyai nilai ibadah bagi wakif. Jadi wakaf yang berjalan di Pesantren Tebuireng mengejawantah menjadi program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, sosial kemanusiaan dan dakwah.

Pada tahun 1980-an boleh dikatakan bahwa wakaf Tebuireng kurang terurus dengan baik. Wakaf tanah yang ada dikelolakan kerjasama dengan ris tebu. Jadi orang-orang pabrik Cukir membantu penuh. Menurut salah seorang santri senior, Bapak Muhsin KS, di zaman KH. Yusuf Hasyim, Pesantren Tebuireng banyak membeli tanah untuk peluasan pesantren. Barulah di era Gus Sholah, gencar melakukan pembangunan gedung yang sudah di atas tanah wakaf milik Pesantren Tebuireng.

Dalam rangka pengembangan wakaf, KH. Salahuddin Wahid memperhatikan dua hal. Pertama, membenahi kualitas pendidikan dengan cara mendirikan lembaga penjaminan mutu. Sebuah unit ujung tombak yang mengurusi standariasi. Kedua, Gus Sholah menyatukan kekuatan keluarga besarnya untuk bersama-sama membangun kamar santri dengan standar kesehatan yang tepat.

Misalnya, kita lihat di Tebuireng ada wisma keluarga Solichah dan Saefuddin Zuhri. Dengan itu beliau jadi memiliki keberanian dan mau mengajak kepada orang lain untuk berinvestasi akhirat. Selanjutnya, dengan pihak luar seperti gedung Rumah Sakit Hasyim Asy’ari yang dibangun melalui kerjasama dengan Dompet Dhuafa. 

Dengan membuat standarisasi bangunan dan pembenahan kualitas pendidikan menjadikan Gus Sholah percaya diri menarik simpatik banyak orang untuk bersama-sama membangun ketahanan dan kemajuan Pesantren Tebuireng. Tak jarang Gus Sholah juga merancang dan membuat desain bangunan sendiri, dan membenahi kualitas pendidikan. Banyak orang kemudian percaya melihat Tebuireng. 

Konsep wakaf Tebuireng disesuaikan dengan core bisnis Pesantren dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu tanah wakaf menjadi penyumbang terbesar dalam pemasukan lembaga senantiasa menjadi acuan dalam pembangunan.

Wallahu a’lam bissawab …

Ad

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *