Carilah Isma’il Kita

Ad
Carilah Isma'il Kita

Setelah melaksanakan salat subuh, tanggal 9 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia, secara serentak mengumandangkan bacaan takbir, tasbih, dan tahmid. Bagaikan dikomando oleh suatu kekuatan yang sangat besar, kita mengikatkan diri dalam suasana kebatinan yang sama, bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Maha Besar, sambil menyatakan betapa agungnya Allah, dan betapa kecil dan lemahnya kita. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

Pengakuan secara tegas dan tulus, tentang Kemahabesaran Allah, sangat penting untuk dinyatakan secara terus menerus dewasa ini. Selama ini kita telah kelewat batas, dalam mengagung-agungkan sesuatu yang tidak berhak untuk diagungkan, seperti mengagungkan kedudukan atau jabatan, mengagungkan harta benda, mengagungkan status, dan mengagungkan diri sendiri. Kecenderungan seperti itu, selain merusak tatanan sosial kehidupan bermasyarakat, juga bisa mengancam komitmen keimanan kita kepada Allah.

Kesediaan Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan putera tersayang Ismail, pasti didasari ketaatan dan keikhlasan beliau. Juga didasari ketaatan dan keikhlasan sang putra tercinta Ismail. Pada saat yang tepat Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.

Ibrahim diperintahkan untuk mengurbankan putranya Ismail yang diperolehnya setelah berumah tangga cukup lama dan beliau sudah berusia 90 tahun. Maka Ismail adalah milik Ibrahim yang paling berharga, tetapi ketaatan dan keikhlasannya membuatnya bersedia mengorbankan milik yang paling berharga. Jadi berkurban bagi kita bukan hanya menyembelih kambing atau sapi, tetapi pesan yang harus kita tangkap ialah bahwa kita diminta mengorbankan sesuatu pada diri kita yang betul-betul amat berharga.

Kita harus mencari “Ismail Kita” dan ikhlas mengorbankannya. “Ismail Kita” itu mungkin adalah diri kita sendiri, atau tepatnya ego kita. Mungkin harta kita, rumah kita, mobil kita, jabatan kita, pangkat kita, partai kita, status sosial kita, popularitas kita. Kita sendiri yang tahu apa itu “Isma’il Kita”.

Jika kita menyenangi atau mencintai sesuatu sedemikian hebatnya hingga hal itu menghalangi kita untuk untuk bisa menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan Nya, maka hal itu adalah Isma’il kita. Setelah kita tahu bahwa itu adalah. “Ismail Kita”, ikhlaskah kita untuk mengurbankannya?

Jika kita seorang pengusaha yang menganggap bahwa harta adalah sesuatu yang bisa menjamin kebahagiaan kita dan masa depan kita, sehingga kita mencari harta dengan cara tidak halal, dengan mengurangi timbangan, menyampur formalin pada makanan, yang jelas melanggar hukum agama dan hukum negara, maka harta itu adalah “Isma’il kita”. Kita harus meninggalkan cara berusaha yang tidak halal itu.

Bagi anak-anak muda, pergaulan atau kawan adalah sesuatu yang amat penting. Mereka tidak mau tersisih dari pergaulan. Kalau kebanyakan kawan-kawannya minum bir, anggur dan lain-lain, anak-anak kita bisa terbawa. Kalau lingkungannya banyak yang mengonsumsi sabu-sabu atau ekstasi, putra-putri kita bisa hanyut. Bagi anak-anak muda tanpa keteguhan sikap, kawan-kawan adalah “Ismail mereka”.

Ringkasnya, “Isma’il kita” adalah apapun atau siapa pun yang dapat merusak hubungan kita dengan Allah, yang dapat mengalihkan perhatian kita dari Allah. Apapun “Isma’il kita”, bawalah ia seperti seekor domba ke “bukit Mina kita” dan sembelihlah di sana.

Wahai hamba Tuhan yang patuh. Itulah perintah Allah. Kenalilah “Ismail kita” masing-masing. Itu adalah setiap hal yang melemahkan kita, yang menghalangi perjalanan kita menuju ridho Allah, yang menjadikan kita kehilangan rasa kemanusiaan, yang membuat kita mengutamakan kepentingan diri kita sendiri, yang membuat kita berpaling dari hati nurani.

Dr Ali Shariaty mengatakan: “Penyembelihan domba sebagai syarat pengorbanan “Isma’il-mu” adalah pengorbananmu. Tetapi mengorbankan dombamu semata-mata demi pengorbanan, hanyalah penjagalan”. Islam tidak menyuruh kita untuk membunuh hewan di altar pemujaan, atau dalam hutan, atau di tepian sungai, danau atau lautan, lalu menyerahkan seluruh sembelihan itu kepada Tuhan. 

Idul Adha juga mengandung ajaran tentang persamaan dan perdamaian. Hal ini terutama disimpulkan dalam pelaksanaan ibadah haji. Orang yang sedang melaksanakan ibadah haji mengenakan pakaian yang sama, kain ihram namanya. Mereka semuanya sama. Tiada raja tiada miskin papa, tiada pejabat negara dan tiada rakyat jelata, tiada orang kota tiada orang desa.

Tiada orang dari negeri maju dan tiada orang dari negeri berkembang, semua berpakaian sama, hadir di tempat yang sama, membaca takbir yang sama dan membaca talbiyah yang sama. Semuanya hadir, menghadap memenuhi panggilan Tuhan yang sama. Begitulah sebenarnya gambaran pada hari mahsyar di akhirat nanti. Semoga ada manfaatnya untuk kita semua.

Wallahu a’lam bissawab …

Ad

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *